Rabu, 01 Mei 2013

PEMUPUKAN BERIMBANG BERDASARKAN PUTS

REKOMENDASI PUPUK DI WKP3K COT BATEE III
BERDASARKAN HASIL UJI TANAH SAWAH

     
       Upaya peningkatan produksi gabah tidak terlepas dari mata rantai perlakuan sejak dari Pengolahan Lahan  sampai pada penanganan pasca panen, namun selama ini pemupukan berimbang belum dilaksanakan sebagaimana mestinya, meskipun sering kali penyuluh melaksanakan penyuluhan tentang pemupukan secara berimbang.
       Pemupukan  selama ini hanya berdasarkan pedoman umum berdasarkan RDKK pupuk bersubsidi yang disusun oleh pelaku utama dalam hal ini kelompok tani bersama penyuluh, dan pemupukan berdasarkan warna daun ( BWD ), mengakibatkan pupuk yang diberikan tidak berimbang dan efisiensi pemupukan menjadi rendah karena kemungkinan suatu unsur hara diberikan secara berlebihan.
   Penyuluh dalam melaksanakan penyuluhan tentunya harus berdasarkan keilmuan yang dapat dipertanggunggjawabkan, namun selama ini keterbatasan sarana pendukung menyebabkan penyuluhan berjalan belum sesuai dengan potensi yang ada.

Gambar 1. Areal Persawahan di desa Kuta Baroe.

       Sebagai penyuluh pertanian yang sehari -  hari bermitra dengan pelaku utama dan pelaku usaha dalam pelaksanaan tugas dan fungsi penyuluh, sangat berkepentingan untuk dapat memberikan informasi dan teknologi anjuran yang spesifik lokasi sehingga dapat diaplikasi oleh pelaku utama dan tentunya dengan produktifitas yang tinggi.
       Untuk itu kami sebagai Penyuluh Pertanian sangat berterima kasih kepada pihak Balai Penelitian Tanah dalam hal ini Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, yang telah memberikan 1 Unit Perangkat Uji Tanah Sawah ( PUTS ) untuk digunakan di wilayah kerja BP3K Kuala. 
      Dengan adanya perangkat Uji Tanah Sawah ( PUTS ), kami penyuluh telah melaksanakan pengambilan sample ( contoh tanah ) disetiap Wilayah Kerja Penyuluh ( WKP3K ) yang meliputi desa - desa di Kecamatan Kuala, Sebagaimana dibawah ini akan kami sampaikan Uji Tanah Sawah di WKP3K Cot Batee III yang meliputi desa Kuta Baroe dan Cot Unoe.

A. Pengambilan Sample.
      Pengambilan sample di desa Kuta Baroe dan Cot Unoe melibatkan pelaku utama ( kelompok tani ) sebagai bentuk partisipasi aktif petani dalam memberdayakan kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan mengetahui keadaan tanah lahan pertaniannya.

Gambar 2. Pengambilan Sample Tanah Sawah Di Areal Sawah Desa Kuta Baro.

       Pengambilan sample dengan mempertimbangkan faktor : kesegaraman lahan, pengairan, pemupukan, penggunaan, perlakuan. Untuk 1 sample diambil pada lahan 10 hektar dengan 15 titik sample, setelah diambil sebanyak 15 titik dengan metode sistematis dan diagonal kemudian disatukan untuk diaduk secara merata dan homogen, kemudian diambil kira - kira 0,5 kg sample untuk dibawa ke kantor BP3K kuala, disana dilakukan pengujian dengan PUTS ( Perangkat Uji Tanah Sawah ).

B. Penetapan Status Tanah Menggunakan  Perangkat  PUTS.
     Penetapan status tanah dengan menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah ( PUTS ) adalah untuk mengetahui keadaan unsur hara makro ( N, P, K ) yang ada dalam tanah dan kemasaman tanah ( PH ), dengan menggunakan indikator : Rendah, Tinggi, Sedang. dan masam, agak masam, netral, agak basa. basa.
       Perangkat PUTS terdiri dari Pereaksi N, Pereaksi P, Pereaksi K, Pereaksi kemasaman ( PH ), Aquades dan alat bantu lainnya seperti : Bagan Warna, Tabung reaksi, Sendok Stainles, Pengaduk Kaca, Kertas tissue, Syringe, dan sikat pembersih.

 
Gambar 3. Perangkat Uji Tanah Sawah ( PUTS ).

       Kegiatan Pengujian dilaksanakan secara bersama oleh penyuluh berdasarkan sample yang diambil disetiap desa di wilayah kerja ( WKP3K ) masing- masing agar penyuluh dapat mengetahui keadaan tanah sawah diwilayahnya beserta rekomendasi pupuk., demikian halnya juga untuk sample di lahan sawah Desa Kuta Baro dan Desa Cot Unoe dilaksanakan pengujian oleh penyuluh WKP3K Cot Batee III.

 
 
Gambar 4. Proses Pengujian Sample Di BP3K Kuala.

       Dari hasil pengujian sample pertama ( Kuta Baro I ) di peroleh hasil pengujian status N Tanah, P Tanah, K Tanah dan Kemasman Tanah, sebagaimana data pada tabel dibawah ini.
REKOMENDASI
STATUS
Pupuk Tunggal
N
Rendah
250 - 300  Urea
P
Tinggi
50               SP36
K
Sedang
50               Kcl
PH
Netral
6 - 7


C. Rekomendasi Pupuk Kepada Petani 
       Berdasarkan hasil pengujian sample tanah sawah yang dilaksanakan di WKP3K Kuala terhadap tanah sawah di Desa Kuta Baroe untuk sample 1 , maka perlu dihitung berdasarkan pupuk subsidi agar memudahkan petani dalam mengaplikasikan rekomendasi tersebut ke pupuk majemuk yaitu NPK phpska dan urea jika perlu.

      Maka dengan demikian cara menghitungnya adalah :
36/100  X  50 = 18 
100/15  X 18 = 120 Kg NPK.
Karena status N rendah, maka perlu ditambah urea :
46/100 X 250 = 115 - 18 = 97
100/46 X 97 = 210 Kg Urea.
Sedangkan KCL, 30 - 18 = 12 Kg K2O, maka KCL tidak perlu ditambah, dengan syarat semua jerami yang ada disawah dibenamkan kembali, karena K2O dapat diperoleh dari jerami dan air irigasi.
D. Kesimpulannya adalah : 
REKOMENDASI
REKOMENDASI PUPUK
STATUS
Pupuk Tunggal
Majemuk Dan Tunggal
N
Rendah
250 - 300  Urea
NPK   =  120 Kg /Ha
P
Tinggi
50              SP36
Urea  =  210 Kg / Ha
K
Sedang
50               Kcl
KCL  = Jerami + air    Irigasi
PH
Netral
6 - 7




Pupuk tersebut diberikan pada saat umur tanaman sebagaimana pada tabel dibawah ini.
Umur tanaman ( HST )
NPK
0 - 14


Urea
28 - 30 hst
35 - 45 hst


50%
50%
  
Demikanlah hasil uji PUTS , dengan harapan dapat diaplikasikan untuk meningkatkan produksi dan efisiensi penggunaan pupuk. Selamat menerapkan agar pemakaian pupuk efisien dan produksi meningkat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar